Inspiring! you and me.
Tentang Kita dan (Berbagai) Identitas Kita

Pernah gak sih ngerasa kok gini banget ya hidup gue?
Sampai akhirnya kita depresi dan merasa berat menjalani rutinitas hidup.
Misal, sebagai mahasiswa krn byk bgt praktikum dan laporan yang harus dilakukan, jadinya kita malah menutup diri dan fokus bgt sama akademik kita.
Seolah-olah identitas kita hanya satu: mahasiswa suatu program studi.
Atau contoh lain, sebagai seorang pejabat BEM atau kampus dengan se-abrek mimpi utk Indonesia, janji politik, tumpukan program kerja, tanggung jawab kepada kongres, dsb. Yang menjadikan kita malah fokus bgt kesana dan depresi berat hingga akhirnya yang lain tertinggal.
Seolah-olah identitas kita hanya satu: pejabat kampus.

Lalu, pertanyaannya..
Apakah salah kalau kita tetap menjadi orang yang dulu? kita yang sebelum mendapat identitas baru itu?

Saya banyak berfikir ulang dan akhirnya kaget ketika tahu bahwa SANGAT BANYAK identitas saya yg tidak diketahui orang lain. Dan terkadang SAYA HANYA FOKUS KE IDENTITAS yang MENURUT SAYA PALING BAIK. Padahal sebenarnya saya masih bisa hidup dgn bahagia dgn terus melihat diri saya dari berbagai identitas.

*pas saya nulis ini, saya sambil denger lagu Raihan – I’tiraf. Dan lama terdiam.

I don’t know.
Saya merasa random skrg.
Saya salah. karena saya hanya BERFOKUS PADA SATU IDENTITAS SAYA.
Seolah-olah AKAN SALAH ketika saya bilang: Sorry, di rumah Mama saya nungguin saya (krn identitas saya sbg seorang anak) jadi gak bisa kumpul terlalu malam.
Atau ini: Sorry geng, udah adzan (krn identitas saya sbg Hamba Allah), daripada rapat mulu yok kita shalat dulu! Kali-kali ontime dan berjamaah yok di masjid!
Identitas saya sebagai Hamba Allah, mujahid Allah, anak, kakak, adik, cucu, paman, guru, mentor, dsb. Itu.. terkadang ditutupi sama identitas utama saya YANG SDG TERLIHAT SAAT ITU. Seolah2 IDENTITAS ITU AKAN NEMPEL DI SAYA SELAMANYA.

Gak kebayang kalau nanti saya jadi CEO perusahaan ternama.
Apakah akan begitu berfokusnya saya shg malah condong tdk punya kehidupan yg hakiki dan membahagiakan?

Tapi dari semua identitas yang selalu saya coba balance-kan semuanya.
Ada pengakuan dosa tertinggi yg menurut saya benar2 saya lewatkan.
Yaitu…identitas sbg Sahabat Yang Menyemangati Dan Menghangatkan.

Utk semua sahabat2 saya..
Maafkan saya..
Saya tahu saya terlalu berfokus pada identitas saya saat ini.
Harusnya tetap ada ruang utk kalian utk melihat saya dan berbincang dgn saya apa adanya.
Seperti waktu dulu itu.

I just feel like… I lost you all.
Termasuk kamu… ya Kamu, yg dulu saat kita berdua masih bukan siapa2 sgt melihat diri masing2 apa adanya.
Dan skrg seolah2 kita berdua harus menjadi apa yg mereka mau demi kesenangan mereka. Kita terlalu byk menuntut satu sama lain.
Ya, gak hanya Kamu. Tapi kayaknya saya juga harus grow up.

“Some people say, you’re a lucky man… to have a lot of friends up there.”
Mocca – Lucky Man.