Inspiring! you and me.

May 23

[video]

May 19

“Bicaralah dengan santun,
tidak perlu keras,
dan pastikan jelas.

Suara yang lembut dengan argumentasi yang kuat,
akan terdengar
ribuan kilometer jauhnya.” — Mario Teguh (via marioteguh)

Kita yang Shalih dan Kuat

Zaman sekarang shalih dan kuat suka dibenturkan. Lihat saja bagaimana sinetron-sinetron di TV kita sekarang mencoba membodohi kita dengan paradigma ini. Konfliknya tidak jauh dari pemeran utama yang baik hati namun mudah disakiti dan dibodohi oleh tokoh antagonis. Dan menjadi hal yang lumrah ketika si tokoh antagonis ini sangatlah kuat, memiliki berbagai macam cara dan kekuasaan, serta punya waktu banyak hanya untuk berfokus menyakiti si pemeran utama. Miris? Memang. Makanya sinetron Indonesia itu membodohi kita.

Kita, bukanlah pemain sinetron yang sudah disiapkan script nya dan setelah itu tinggal berakting sesuai script itu. Bukan. Kita adalah manusia dengan kekuasaan dan keputusan sepenuhnya ada pada kita. Paradigma salah tentang shalih dan kuat ini mulai terasa menjadi benturan kemahasiswaan sekarang. Yang kuat belum tentu shalih, dan memang biasanya nakal atau licik dengan membawa kepentingan ego pribadi atau golongan tanpa ada dasar yang jelas. Berbeda dengan satu lagi, yang shalih merasa perlu untuk menjadi sedikit lemah dan bersabar karena kelemahannya itu.

Coba lihat fenomena Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang terkadang dianggap kurang profesional di mata beberapa pihak. Banyak agenda dan program kerja LDK yang tidak maksimal dan mendapat banyak kritik. Biasanya kalau dibilang seperti ini alasan para pengurus LDK ini bisa beraneka macam. Tapi kembali lagi, faktanya adalah kita, para aktivis LDK, hanya berfokus pada keshalihan, sedangkan tidak mencoba meningkatkan kekuatan agar dirasa pantas dan berhak memegang amanah yang lebih tinggi.

Berbeda dengan mahasiswa yang dulunya adalah pengurus LDK atau LDF (Lembaga Dakwah Fakultas) yang memberanikan diri terjun ke ranah organisasi kampus non agama seperti himpunan, BEM, atau sejenisnya. Mereka menjadi kuat karena pengalaman disana, tapi tidak tumbuh keshalihannya seperti teman-teman pengurus LDK. Rekan kerja para mahasiswa ini lebih heterogen. Mereka lebih beresiko terwarnai, bukannya malah mewarnai yang lain dengan kebaikan Islam.

Faktanya adalah neraca shalih dan kuat itu seperti neraca pemasukan dan pengeluaran. Seolah-olah keduanya tidak bisa dinaikkan secara bersamaan. Seolah-olah harus ada yang dikorbankan untuk mendapatkan salah satu dari shalih atau kuat itu.

Seperti firman Allah di surat Ali Imran ayat 110, disebutkan bahwa kita adalah umat terbaik. Yang bisa memberikan output dan outcome terbaik dan ikhtiar terbaik. Yang bisa membawa perubahan dan perbedaan positif atas pengaruh dan keberadaan kita dalam suatu keadaan. Tidak ada alasan bagi kita untuk mengeluhkan suatu hal karena kondisi eksternal atau lingkungan kita. Harus ada perubahan paradigma yang menghujam dalam diri kita.

Tidak ada dalil yang menyatakan kita hanya harus maksimal ketika shalat, shaum ramadhan, dan ibadah-ibadah lain yang memang target utamanya adalah Allah. Kenapa ketika kita melakukan sesuatu yang terkadang kita tidak berpikir bahwa ini adalah untuk Allah? Sehingga harus maksimal dan ada peraturan mendasar yang harus dipatuhi. Layaknya shalat yang dianggap batal jika ada yang membatalkan wudu’; begitupun dengan aktivitas kita. Harus ada SoP pribadi yang kita buat untuk diri kita sendiri. Termasuk dalam memberikan hukuman kepada diri sendiri.

Urgensi membaca buku pun semakin menggaung sekarang. Tidak bisa kita pungkiri bahwa membaca lah gerbang peningkatan kapasitas diri dan akan lebih menguatkan kita lagi. Membaca menjadi hal yang mewah bagi para mahasiswa dengan segudang aktivitasnya. Sehingga perlu dilakukan diet minim informasi yang efektif dan rasional bagi kita. Bukan berarti semua harus dibaca, apalagi jejaring sosial. Tidak harus setiap hari kita membaca semua bagian dari artikel surat kabar. Gunakan rasionalitas dan logika dalam membaca, tumbuhkan sikap kritis dari sana, dan rasakanlah bahwa ada kekuatan baru dari sana.

Nonton Harpot dengan Anjar

May 02

akhirulsyah:

unbreakable-neti:

Captured at Gedung pusat PPSDMS NF by: Jiwo Damar Anarki
Edited by: @netihebat
Latgab Barat PPSDMS Nurul Fikri~after planting the time capsule.

ini jiwo gitu yang ambil foto? lah itu yang disebelah tino siapa ya? ~mikir.. ;)

akhirulsyah:

unbreakable-neti:

Captured at Gedung pusat PPSDMS NF by: Jiwo Damar Anarki

Edited by: @netihebat

Latgab Barat PPSDMS Nurul Fikri~after planting the time capsule.

ini jiwo gitu yang ambil foto? lah itu yang disebelah tino siapa ya? ~mikir.. ;)

hoaa!
sedih yaa.. 2 bulan lagi gak di asrama PPSDMS lagi..
tinggal dua bulan lagi! ngapainn?? take more memories Anggaaa!!

*saya dan saudara2 tersayang di asrama

hoaa!

sedih yaa.. 2 bulan lagi gak di asrama PPSDMS lagi..

tinggal dua bulan lagi! ngapainn?? take more memories Anggaaa!!

*saya dan saudara2 tersayang di asrama

Apr 30

HOOAAAA! SAYA NANGIS PAS PUISI INI DIBACAKAN! -

akhirulsyah:

titik temu.

manusia itu, hidup sesuai garis edarnya.
bermula dari satu titik.
berpadu dengan yang lainnya.

ya kawan, Tuhan kita yang terkasih,
telah memberikan kesempatan untuk bertemu..
dalam lini masa yang sangat singkat.

rasa suka, duka, sedih, gembira..
memberi riak berwarna-warni…

Apr 21

tidak bisa lebih setuju lagi. hahaha

tidak bisa lebih setuju lagi. hahaha

(via etiquetteforalady)

Orang baik pasti nama baiknya akan lebih abadi daripada jasadnya: Widjajono Partowidagdo -

shannyard:

Sebelum berpulang, Guru Besar Institut Teknologi Bandung itu memang sempat mengirimkan pesan dimailing list Ikatan Alumni ITB. Dalam tulisan itu, ia berpesan kepada rekan-rekannya untuk tetap berserah kepada Yang Maha Esa. Inilah tulisan tangan terakhir sang profesor itu sebelum…

(Source: nasional.kompas.com)

Feb 29

(Source: khadimulquran, via muslimsociety)